QamarKailani dalam ulasannya tentang asal-usul tasawuf menolak pendapat mereka yang mengatakan tasawuf berasal dari agama Hindu-Budha. Menurutnya, pendapat ini terlalu ekstrim. Kalau diterima bahwa ajaran tasawuf itu berasal dari Hindu-Budha, berarti pada zaman Nabi Muhammad telah berkembang ajaran Hindu-Budha ke Mekkah.
Tulisanyang berjudul Memahami Hakikat Tasawuf adalah seri ke-12 dari serial Materi muncullah tokoh-tokoh besar yang menyadarkan umat bahwa dunia ini hanya sementara. Mereka berusaha menghidupkan kembali budaya zuhud. (w. 100 H), Hasan al-Bashri (w. 110 H), Ibrahim bin Adham (w. 162 H), Fudhail bin Iyadh (w. 187 H), Ma'ruf al-Kurkhi
Teorilain mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata Yunani theosofie artinya ilmu ketuhanan. Tokoh sufi lainnya yang hidup sejaman dengan Abu Hasyim al-Kufi adalah Ibrahim bin Adham (w. 165 H/782 M). Tokoh-tokoh yang memengaruhi tasawuf di Indonesia diantaranya adalah: Syamsuddin As-Sumatrani, Hamzah Al-Fasuri, Nuruddin Ar-Raniri
Ibrahimbin Adham berasal dari keluarga ternama dan penguasa kawasan Balkh. Akan tetapi, ia secara tiba-tiba beralih orientasi ke dunia zuhud. Setelah bertobat, ia berangkat menuju Mekkah dan berjumpa dengan para pembesar sufi di kota ini, seperti Sufyan al-Tsauri dan Fudahil 'Iyadh.
Segalatindakannya berasal dari dan untuk Tuhan. Dalam bahasa agama disebut tawakkal. Imam Ibrahim bin Adham mendapatkan pelajaran berharga dari hamba sahaya itu. Pengetahuannya tentang menjadi hamba bertambah, bahwa seorang hamba harus menerima apa pun yang ditetapkan tuannya.
oXgBydY. “Kuduga engkau membeli kemelaratanmu dengan gratis,” komentar Ibrahim melihat hal itu. “Wah,” si pengemis takjub. “Apakah kemelaratan bisa dibeli?” JERNIH— Abu Ishaq Ibrahim bin Adham lahir di Balkh dari keluarga bangsawan. Ibrahim adalah penerus keluarga tersebut, dan sempat mengenyam kekuasaan dan aneka kenikmatan dunia, sebelum kemudian ia bertobat dengan pertobatan yang total. Ibrajim kemudian memasuki dunia tasawuf dan menjadi seorang sufi terkemuka. Banyak cerita tentang dan dari Ibrahim bin Adham. Beberapa di antaranya kami tulis ulang di bawah ini. Suatu hari ada yang bertanya kepada Ibrahim bin Adham,” Apa yang terjadi kepadamu sehingga engkau meninggalkan kerajaanmu?” “Suatu hari aku duduk di singgasanaku,” jawab Ibrahim. “Ada cermin yang didirikan di hadapanku; aku menatap cermin itu dan melihat bahwa aku tinggal di dalam makam, tanpa seorang pun yang aku kenal. Aku melihat perjalanan panjang di hadapanku, dan aku tak sedikit pun memiliki perbekalan. Aku melihat hakim yang adil, tetapi aku tak memiliki hujjah dan pembelaan. Aku mulai muak dengan statusku sebagai raja.” “Mengapa engkau melarikan diri dari Khurasan?” tanya mereka. “Di sana banyak kudengar tentang sosok sahabat sejati,” jawab Ibrahim. “Mengapa engkau tak emngambil seorang istri?”tanya mereka. “Apakah ada perempuan yang mau menerima suami yang terus membuatnya lapar dan telanjang?” “Tidak,” jawab mereka. “Itulah sebabnya aku tidak menikah,” kata Ibrahim. “Perempuan yang kunikahi akan terus lapar dan telanjang tanpa pakaian. Seandainya bisa, aku akan menceraikan diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku membebani orang lain?” Ibrahim berpaling kepada seorang pengemis yang ada saat itu, dan bertanya,” Apakah Engkau memiliki istri?” “Tidak,” jawab pengemis. “Punya anak?” “Tidak,” kembali dijawab pengemis. “Bagus…bagus,” kata Ibrahim. “Mengapa engkau menanyakannya?”tanya pengemis. “Pengemis yang menikah menaiki sebuah kapal. Ketika lahir anak, ia tenggelam.” *** Suatu hari Ibrahim melihat seorang pengemis meratapi nasibnya. “Kuduga engkau membeli kemelaratanmu dengan gratis,” komentar Ibrahim melihat hal itu. “Wah,” si pengemis takjub. “Apakah kemelaratan bisa dibeli?” “Tentu saja,” jawab Ibrahim. “Aku membelinya dengan kerajaan Balkh, dan aku dapat potongan harga.” *** Di dalam kitab “Hilyat al-Auliya” karya Abu Nu’aim, Said bin Harb bercerita, “Suatu ketika, Ibrahim bin Adham tiba di Makkah dan bertamu kepada Ali Abdul Aziz bin Abi Rawad. Syekh Ibrahim membawa kantong yang terbuat dari kulit Biyawak. Kantong itu ia gantungkan di sebuah gantungan. Lalu ia pergi untuk thawaf.” Pada saat bersamaan, Sufyan al-Tsauri, salah satu ulama perawi hadis juga sedang bertamu ke rumah Abdul Aziz. Syekh Sufyan melihat kantong milik Ibrahim bin Adham dengan pandangan heran. Ia bertanya kepada Abdul Aziz, “Kantong ini milik siapa?” “Kantong itu milik salah satu sahabatmu. Ibrahim bin Adham, Syekh.” Syekh Sufyan mendekati kantong lalu memegangnya. Ia penasaran dengan isinya. Ia terus melihat kantong itu dengan seksama lalu berkata, “Agaknya dalam kantong ini ada buah-buahan yang dibawa Ibrahim dari Syiria.” pikirnya. Syekh Sufyan bertambah penasaran dengan isi kantong itu. Dia pun menurunkan kantong dan membukanya. Ketika dibuka, dia kaget dan heran. Bagaimana tidak? Kantong yang dikiranya berisi buah-buahan itu ternyata isinya hanya tanah. Ya. Tanah. Entah untuk apa tanah itu. Maka Syekh Sufyan pun buru-buru menutup kantong lalu menggantungkannya lagi di tempat semula. Ketika Ibrahim bin Adham selesai thawaf dan kembali ke penginapan, Abdul Aziz menceritakan perbuatan Sufyan kepada Ibrahim. “Tadi temanmu, Syekh Sufyan ke sini. Dia penasaran pada isi kantongmu. Dia mengintip apa isi di dalamnya. Dia melihat isinya hanya tanah. Apa benar demikian, Syekh?” Ibrahim bin Adham menjawab, “Begitulah adanya.” “Untuk apa, Syekh?” Abdul Aziz ikut penasaran. “Itu adalah makananku sejak sebulan lalu.” Jawab Ibrahim. Abdul Aziz pun diam tak lagi bertanya. Di dalam riwayat lain, Abu Muawiyah al-Aswad bercerita, “Aku pernah melihat Ibrahim bin Adham memakan tanah selama 20 hari. Setelah itu, Ibrahim berkata kepadaku “Wahai Muawiyah, seandainya aku tidak takut jiwaku diketahui orang-orang, tentu aku hanya akan makan tanah sampai tutup usia ketika aku menemui Allah. Sehingga rezeki halal bagiku benar-benar bersih. Dari mana pun asalnya.” Ibrahim bin Adham makan tanah bukan berarti dia tak mampu mencari makanan lain yang lebih lezat. Dia tokoh yang ternama di zamannya. Dia bisa mendapatkan makanan yang lezat. Tapi mengapa Ibrahim sampai makan tanah? Di dalam kitab Hilyat al-Auliya disebutkan alasannya. Dia berbuat seperti itu semata-mata agar apa yang dimakannya benar-benar dari sesuatu yang halal. Sebab dalam ajaran Islam, setiap makanan yang mengandung unsur haram kelak bisa menyalakan api di dalam neraka. Api itu akan membakar orang yang makan barang haram. *** Selepas menunaikan ibadah haji, Ibrahim ingin melanjutkan perjalanannya ke Masjid al-Aqsha. Ketika di sebuah perjalanan ke Yerussalem, ia mampir ke pasar dekat Masjidil Haram untuk membeli kurma pada seorang pedagang tua untuk bekal di perjalanan. Kurma yang selesai ditimbang lalu dimasukkan di keranjang Ibrahim. Setelah dirasa semua kurma sudah masuk di keranjang, Ibrahim melihat satu kurma tercecer persis di bawah timbangan. Ia mengira satu biji itu bagian dari kurma yang ia beli. Segera ia pungut dan memakannya. Setelah melahap ia berangkat menuju Masjid al Aqsha. Selang empat bulan kemudian, Ibrahim bin Adham tiba di Masjid Al Aqsha. Ia memilih ruangan di bawah Kubah Sakhra sebagai tempat favorit beribadah. Ia salat, mendaras Alquran, bermunajat dengan khusyuk. Di sela-sela ketika ia beribadah, telinganya menangkap suara dua malaikat bercakap tentang dirinya. “Itu dia Ibrahim bin Adham, seorang ahli ibadah, zuhud, dan wara yang doanya selalu dikabulkan oleh Allah Swt,” ujar satu malaikat. “Tetapi sekarang tidak. Doanya tertolak. Sebab empat bulan yang lalu ia memakan sebutir kurma di meja seorang pedagang tua yang bukan haknya,” jawab malaikat yang lain. Mendengar bisikan itu, seketika Ibrahim terkejut dan terhenyak. Ia teringat empat bulan yang lalu sebelum berangkat menuju Yerussalem, ia mampir membeli sekilo kurma di pasar dekat Masjidil Haram. Merasa ada yang janggal di hati dan pikirannya, ia bangkit mengemasi barang-barangnya dan pergi kembali ke Mekah untuk mencari pedagang kurma dan meminta keikhlasan sebutir kurma. Sesampainya di Mekah, di tempat pedagang tua berjualan dulu, yang ditemui bukanlah orang tua yang dulu berjualan, melainkan seorang pemuda belia. Ibrahim yang sedang mengalami kemelut di hati itu pun bertanya. “Empat bulan yang lalu saya membeli kurma di sini kepada seorang pedagang tua. Sekarang di mana dia?” “Itu Bapak saya, Syeikh. Dia meninggal sebulan yang lalu,”kata pemuda tersebut. “Innalillahi Wainna ilaihi rooji’uun, saya turut berduka cita atas kematian Bapakmu wahai pemuda. Kalau begitu kepada siapa saya bisa meminta penghalalan?” Ibrahim kemudian menceritakan detail peristiwa yang dialaminya. Sedang anak muda mendengarkan dengan seksama. “Nah, begitulah. Engkau sebagai ahli waris orangtua itu, maukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur kumakan tanpa izinnya?” kata Ibrahim bin Adham setelah bercerita. “Bagi saya tidak masalah. Saya halalkan. Tapi saya masih memiliki saudara yang jumlahnya 11 orang yang mempunyai hak waris sama dengan saya,”ujar pemuda itu. Ibrahim yang berkeras mendapatkan rido atas sebutir kurma tersebut, meminta alamat masing-masing saudaranya. “Di mana alamat-alamat saudaramu, biar saya temui mereka satu persatu?”kata Ibrahim. Setelah menerima alamat, Ibrahim bin Adham kemudian pergi menemui mereka. Masing-masing didatangi, mengetuk pintu, dan ditemui tepat di depan rumah. Setelah seluruh keluarga itu telah menghalalkan sebutir kurma, Ibrahim pun lega. Dirasa semua permasalahan telah terselesaikan, Ibrahim kembali ke Masjid al Aqsha. Ia kembali menempuh empat bulan perjalanan ke Masjid Al-Aqsha. Sesampainya di sana, seperti biasa, ia memilih Kubah Sakhra sebagai tempat beribadah. Ia kembali bertakarub kepada Allah, dengan ritual salat, zikir, dan munajat. Tidak menunggu lama, di sela-sela ia berdoa, tetiba Ibrahim mendengar dua malaikat yang dulu sedang berdebat. “Itulah Ibrahim bin Adham yang doanya tertolak gara-gara makan sebutir kurma milik orang lain,” kata seorang malaikat. “Oh tidak, sekarang doanya sudah kembali makbul. Ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu. Diri dan jiwa Ibrahim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram karena masih milik orang lain. Sekarang ia sudah bebas,”kata malaikat yang satunya lagi. [dsy] Dari “Tadzkiratul Auliya”, Fariduddin Aththar, Penerbit Zaman, 2018
OLEH HASANUL RIZQA Pada abad kedua Hijriyah, seorang ahli tasawuf lahir dari generasi tabiin. Dialah Syekh Ibrahim bin Adham. Baginya, tarekat lebih utama daripada takhta. Sang Sufi dari Khurasan Nabi Muhammad SAW bersabda, “Yang terbaik dari kalian umat Islam adalah orang-orang yang hidup pada zamanku sahabat, kemudian orang-orang setelah mereka tabi’in, kemudian orang-orang setelah mereka at-tabiit taabi’in.” Hadis tersebut menunjukkan betapa mulianya kedudukan tiga generasi itu. Mereka menjadi yang paling awal dalam menerima dan menyebarluaskan risalah Islam. Dari generasi tabiin, terdapat seorang tokoh yang menekuni dunia tasawuf. Dialah Syekh Ibrahim bin Adham 718-782. Sang salik lahir di tengah komunitas Arab Kota Balkh, daerah Khurasan timur kini bagian dari Afghanistan. Menurut Imam Bukhari 810-870, sufi tersebut masih keturunan sahabat Rasulullah SAW, Al-Faruq Umar bin Khattab 584-644. Sepanjang hayatnya, sang syekh telah berkelana ke banyak kota, termasuk Baitul Makdis. Ia wafat dalam usia kira-kira 64 tahun. Ada beragam pendapat mengenai lokasi makamnya. Sejarawan Ibnu Asakir 1105-1175 mengatakan, sang sufi gugur saat mengikuti jihad dalam melawan Kekaisaran Romawi Timur. Jenazahnya kemudian dimakamkan di sebuah pulau wilayah Bizantium. Ada pula yang menyebut, kuburannya berada di Baghdad. Sumber lain menyatakan, tempat peristirahatan terakhirnya ialah Jablah, sebuah kota pesisir Suriah. Sebagai seorang sufi dari kelompok tabiin, reputasinya dikenal luas. Banyak figur tasawuf terkemuka yang menyebutkan riwayat Syekh Ibrahim dalam karya-karyanya. Hal itu menandakan, pengaruh sosok yang berjulukan Abu Ishaq tersebut sangatlah besar bagi generasi-generasi salik yang datang sesudahnya. Sebagai seorang sufi dari kelompok tabiin, reputasinya dikenal luas. Rumi, misalnya, beberapa kali mengisahkan ahli zuhud itu dalam Matsnawi. Begitu pula dengan Fariduddin Attar 1145-1220, yang menuturkan hikmah-hikmah Abu Ishaq dalam Manthiqut Thair dan Tadzkiratul Auliya. Banyak buku lainnya yang memaparkan kisah pengembaraan hidup lelaki bijaksana ini. Sebut saja, Hilyatul Auliya Juz I, Al-Bidayah wal Nihayah Juz X, serta Al-I’lam Juz I. Seperti halnya narasi tentang para sufi, riwayat Syekh Ibrahim pun diwarnai berbagai cerita yang menakjubkan. Bagi sebagian kalangan, adanya nuansa “keajaiban” itu wajar adanya. Sebab, tokoh tersebut memang diyakini memiliki karamah. Bagaimanapun, sketsa kehidupan sang syekh juga dapat diteliti secara apa adanya. Menurut Reynold A Nicholson dalam artikelnya, “Ibrahim b Adham”, para ahli sejarah dapat mengandalkan sumber-sumber dari sarjana Muslim terdahulu, semisal Ibnu Asakir atau Abu Nu’aim al-Isfahani 948-1038. Keduanya menuturkan, Ibrahim bin Adham lahir kira-kira pada tahun 112 Hijriyah. Namun, ada perbedaan mengenai lokasi kelahirannya. Ibnu Asakir berpendapat, Ibrahim bin Adham lahir di Balkh. Sementara itu, al-Isfahani dalam Hilyatul Auliya mengisahkan, sang sufi lahir di Makkah ketika kedua orang tuanya sedang berhaji. Kisahnya bermula pada suatu musim haji. Sang sufi lahir di Makkah ketika kedua orang tuanya sedang berhaji. Kisahnya bermula pada suatu musim haji. Adham bin Manshur, seorang bangsawan kaya raya, berziarah ke Tanah Suci dengan didampingi istrinya tercinta. Di kota kelahiran Rasulullah SAW itu, perempuan tersebut melahirkan bayi yang akhirnya diberi nama Ibrahim. Adham dengan suka cita membawa anaknya itu ke hadapan Ka’bah. Setiap berpapasan dengan jamaah yang sedang thawaf, lelaki dari Balkh ini selalu meminta mereka untuk mendoakan kebaikan bagi putranya. Berbagai karangan menyebut, Ibrahim bin Adham pernah menjadi raja atau anak seorang raja Khurasan sebelum mendalami tasawuf. Akan tetapi, keterangan semacam itu tidak memiliki pijakan historis yang kuat. N Hanif dalam Biographical Encyclopaedia of Sufis Central Asia and Middle East 2002 mengungkapkan, orang pertama yang menyematkan status raja kepada sufi tersebut ialah Ibnu Husein al-Sulami. Bahkan, sarjana Muslim dari abad ke-10 Masehi itu menyatakan, Syekh Ibrahim pernah berjumpa dengan Nabi Khidir AS sehingga dirinya bertobat. Tema pertobatan sang mursyid kala masih muda juga disinggung Attar dalam Tadzkiratul Auliya. Sastrawan-sufi itu mengisahkan, pada mulanya Syekh Ibrahim sedang terlelap di atas ranjang istananya. Saat tengah malam itu, tiba-tiba ia terbangun karena mendengar suara berisik dari arah atap. “Siapa itu!?” teriaknya. “Aku sahabatmu,” jawab suara itu, “untaku telah hilang, dan aku sedang mencarinya kini.” “Kurang ajar, apa kau sedang mempermainkanku!? Bagaimana orang mencari unta di atas atap?” “Wahai orang yang lalai, apakah engkau mencari Allah dengan pakaian mewahmu, dan sambil berbaring di atas ranjang emas?” timpal suara itu. Wahai orang yang lalai, apakah engkau mencari Allah dengan pakaian mewahmu, dan sambil berbaring di atas ranjang emas? Mendengar jawaban tersebut, Ibrahim terhenyak. Hingga pagi menjelang, dirinya tidak tidur. Pikirannya terus merenungi makna kata-kata itu. Bahkan hingga siang tiba, Ibrahim terus tenggelam dalam perenungan. Para menteri dan jajarannya bingung melihat raja mereka termenung, seperti sedang memikirkan suatu hal yang penting. Tiba-tiba, aula raja didatangi seorang lelaki tak dikenal. Alih-alih mengusirnya, para pengawal istana justru diam terpaku. Wajah pria asing itu seperti memancarkan kewibawaan. Orang-orang kagum menyaksikannya. Lidah mereka seakan tercekat, tak bisa berkata-kata. Lelaki yang tak diketahui namanya itu terus berjalan ke arah singgasana. “Apa yang engkau inginkan?” tanya Ibrahim. “Aku datang ke karvansaray ini untuk menyampaikan sesuatu,” katanya. “Ini istana raja, bukan karvansaray!” ujar Ibrahim dengan nada tersinggung. Raja Khurasan itu rupanya tidak terima, tempat tinggalnya disamakan dengan sebuah pondok penginapan untuk kaum musafir atau pedagang karvansaray. “Baiklah, siapa yang memiliki istana ini sebelummu?” “Bapakku!” jawab Ibrahim. “Sebelum dia?” “Kakekku!” tegasnya. “Sebelumnya lagi?” “Si fulan, dan fulan, lalu seterusnya,” sambung Ibrahim. “Mereka semua pergi ke mana?” tanya orang misterius ini. “Semuanya sudah tidak ada. Mereka telah mati.” “Kalau begitu, bukankah tempat ini sebuah karvansaray? Orang-orang datang dan pergi. Kelak, engkau pun juga begitu,” ucap tamu tak diundang ini. Setelah mengatakan itu, lelaki nan bijaksana tersebut pergi begitu saja. “Dia adalah Nabi Khidir AS,” jelas Attar kepada pembaca kitabnya ini. Sejak perjumpaan itu, lanjutnya, Ibrahim bin Adham menyadari kekeliruannya. Selama ini, bangsawan Negeri Khurasan itu selalu membangga-banggakan diri dengan harta dan kekuasaan. Api kesadaran lalu menyala dalam dirinya. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan semua kekayaan duniawi, untuk kemudian berhijrah dalam jalan tasawuf. Tujuan awalnya ialah Masjidil Haram. Usai melakukan haji, Syekh Ibrahim kembali mengembara. Menurut narasi Hilyatul Auliya, sang salik sempat bertandang ke Irak, tetapi tidak menemukan pekerjaan yang tepat untuk sekadar menyambung hidup. Lantas, ia terus berjalan ke Syam. Di sanalah, dirinya memperoleh kerja sebagai buruh kebun. Penghasilannya untuk mencukupi makan harian saja. Sebab, yang menjadi fokusnya bukanlah pekerjaan, melainkan belajar ilmu dan hikmah dari alim ulama. Jauh dari gemerlapnya dunia kian membuatnya bahagia. Suatu ketika, seseorang bertanya kepada Syekh Ibrahim, apa alasannya sehingga meninggalkan takhta dan kekayaan di Khurasan. Ia menjawab dengan penuh keyakinan, “Aku tidak menemukan kebahagiaan hidup kecuali di Syam. Di negeri inilah aku berkelana dengan membawa agamaku. Aku pun naik-turun puncak bukit bekerja mencari nafkah –Red. Orang-orang mungkin mengira diriku aneh atau gila.” Aku tidak menemukan kebahagiaan hidup kecuali di Syam. Di negeri inilah aku berkelana dengan membawa agamaku. Ya, dalam setiap rihlahnya, ia pantang mengemis, apalagi meminta-minta kepada orang. Untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum, ia selalu mencari nafkah dari hasil jerih payahnya sendiri. Selain profesi tukang kebun, Syekh Ibrahim juga pernah menjadi buruh petik saat musim panen dan penimba air sumur. Beberapa daerah Syam pernah disinggahinya. Misalnya, pinggiran Sungai Sayhan kini Turki selatan atau Gaza, Palestina. Menurut al-Isfahani, ahli tasawuf itu diduga pernah mengikuti beberapa operasi militer Islam dalam membendung Bizantium. Kisah-kisah jihadnya beberapa kali disebutkan dalam pelbagai anekdot tentangnya. Sufi tersebut juga dikisahkan, mengalami sakit perut sebelum meninggal di medan pertempuran. Sebagian riwayat menyebut, Ibrahim bin Adham tidak menikah. Bagaimanapun, cerita yang dimuat dalam Tadzkiratul Auliya menyiratkan yang sebaliknya. Sang syekh dikisahkan pernah bertemu dengan anaknya yang bertahun-tahun ditinggalkannya. Hingga kini, Ibrahim bin Adham terus menjadi inspirasi kebijaksanaan. Nama besarnya tersiar luas bahkan hingga ke Nusantara. Begitu pula dengan petuah-petuahnya, sebagaimana dicatat para salik dari generasi ke generasi. Nama besarnya tersiar luas bahkan hingga ke Nusantara. Begitu pula dengan petuah-petuahnya, sebagaimana dicatat para salik dari generasi ke generasi. Keikhlasannya yang istiqamah hanya untuk dekat dengan Allah SWT. Dikisahkan, pada suatu waktu dalam perjalanannya menuju Makkah Syekh Ibrahim melalui padang gurun. Tiga hari telah lewat, sementara ia tidak menemukan apa pun yang bisa dimakan. Tiba-tiba, Iblis mendatanginya dan berbisik, “Untuk apa kamu dahulu meninggalkan istana dan kerajaanmu? Apakah kelaparan ini saja yang akhirnya kamu peroleh? Bukankah bisa berziarah ke Tanah Suci dengan penuh kenyamanan, didampingi para pengiring dan pengawal, tanpa harus bersusah-payah?” Mendengar perkataan Iblis, Ibrahim mengangkat kedua tangannya sembari menangis, “Ya Allah,” katanya berdoa, “mengapa Engkau menunjuk musuh-Mu untuk menemui sahabat-Mu? Kumohon, datanglah untuk menolongku. Aku tidak akan mampu menyeberangi padang pasir ini tanpa pertolongan-Mu.” Lalu, sebentuk suara menghampirinya, “Ibrahim, keluarkan apa-apa yang ada dalam kantungmu agar Kami mendatangkan apa-apa yang dimiliki Zat Yang Maha Tersembunyi.” Ibrahim kemudian memasukkan tangannya ke dalam saku. Ternyata, ada beberapa koin perak yang lama dilupakannya. Ia langsung membuang benda-benda itu. Seketika, Iblis melarikan diri. Allah kemudian mencukupkan Ibrahim dengan rezeki dari-Nya.
ibrahim bin adham adalah tokoh tasawuf yang berasal dari